Kategori
Kesehatan Fisik

Fakta Bahwa Jam Kerja Yang Terlalu Panjang Bisa Meningkatkan Resiko Kematian

Saat ini dunia sedang dilanda pandemic covid-19 dimana beberapa sector masih diharuskan WFH, tentu pada saat WFH jam kerja kita otomatis akan bertambah Panjang.

Nah, tahukah kamu bahwa menurut Situs informasi seputar gaya hidup terbaik Covid19Qatar jam kerja yang terlalu Panjang bisa mengakibatkan kematian, karena kita bisa saja terserang stroke ataupun penyakit jantung lho.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) mengeluarkan hasil analisis global yang menunjukkan bahwa jam kerja yang panjang berkaitan dengan risiko kematian akibat penyakit jantung dan stroke.

Meskipun laporan ini hanya mencakup periode dari 2000-2016, tetapi WHO mengatakan kondisi pandemi COVID-19 kemungkinan meningkatkan risiko ini.

“Pandemi mempercepat laju tren peningkatan jam kerja,” kata WHO mengacu pada lonjakan metode kerja jarak jauh dan perlambatan ekonomi. Mereka memperkirakan setidaknya 9% orang bekerja melebihi jam kerja normal biasanya.

Bagaimana jam kerja yang panjang bisa menyebabkan kematian akibat stroke dan penyakit jantung? Apa pengaruhnya? Penasaran yuk disimak.

Dalam studi yang diterbitkan di Environment Internasional (17/5/2021), WHO menganalisis secara global hubungan antara jam kerja yang panjang dan kematian.

WHO dan ILO memperkirakan, pada 2016 sekitar 745.000 orang meninggal akibat bekerja setidaknya 55 jam dalam sepekan, yang berarti 11 jam/hari jika bekerja 5 hari dalam seminggu.

Dari total kematian akibat jam kerja yang panjang, sekitar 398.000 karena stroke dan 347.000 karena penyakit jantung.

Bekerja 55 jam atau lebih dalam seminggu dikaitkan dengan risiko stroke 35% lebih tinggi dan risiko kematian akibat penyakit jantung 17% lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja hanya 35 hingga 40 jam.

Sebagian besar kematian terjadi pada orang berusia 60-79 tahun yang telah bekerja 55 jam seminggu ketika ia berusia 45-74 tahun.

Peneliti juga mencatat, dampak buruk menjalani jam kerja yang panjang paling parah berdampak pada laki-laki, sebanyak 72% dari total kematian.

WHO mengatakan ada dua cara di mana jam kerja yang panjang dapat menyebabkan kematian akibat penyakit jantung dan stroke.

Pertama, stres secara psikologis akibat bekerja berjam-jam dapat memicu reaksi pada sistem kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).

Kedua, stres akibat jam kerja yang panjang bisa memicu perilaku-perilaku buruk yang dianggap sebagai faktor risiko penyakit jantung dan stroke.

Perilaku buruk tersebut di antaranya, merokok, minum alkohol, pola makan buruk, kurangnya aktivitas fisik, dan gangguan tidur.

Laporan tersebut bahkan menyatakan bahwa jam kerja yang panjang diperkirakan bertanggung jawab atas sepertiga dari semua penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan.

Pandemi meningkatkan tren bekerja lebih lama

WHO menekankan pada para pengusaha agar mempertimbangkan hasil studi ini dalam mengatur jam kerja karyawannya.

Pengaturan jam kerja yang sehat perlu menjadi perhatian terutama pada masa pandemi COVID-19 saat ini.

Jumlah yang bekerja lebih dari 55 jam dalam sepekan terus meningkat, saat ini diperkirakan jumlahnya mencapai 9% dari populasi global.

Beberapa analisis secara khusus menyoroti adanya tren peningkatan jam kerja karena beberapa alasan, salah satunya metode bekerja dari rumah atau work from home (WFH) yang membuat karyawan sulit membedakan jam kerja dan jam istirahat.

Data Badan Pusat Statistik Inggris (ONS) juga menemukan, orang yang bekerja dari rumah selama pandemi rata-rata melakukan 6 jam kerja lembur yang tidak dibayar dalam sepekan.

Sebagai perbandingan, orang-orang yang tidak bekerja dari rumah rata-rata hanya melakukan 3,6 jam kerja lembur tanpa dibayar dalam sepekan.

“Pandemi COVID-19 telah mengubah cara kerja banyak orang secara signifikan,” kata Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.

“Teleworking (WFH) telah menjadi norma di banyak industri, kondisi ini sering mengaburkan batas antara rumah dan pekerjaan. Tidak ada pekerjaan yang sebanding dengan risiko stroke atau penyakit jantung. Pemerintah, pengusaha, dan pekerja perlu bekerja sama untuk menyepakati batasan untuk melindungi kesehatan pekerja,” ungkapnya.

Nah oleh karena itu bagi kalian yang merasa stress karena banyak pekerjaan yang dilakukan perlu melakukan refresing dengan menghibur diri. Menghibur diri juga dapat dilakukan dengan banyak cara tergantung setiap individunya seperti misalnya bermain game SBOBET88 di situs judi bola terpercaya atau juga bisa liburan keluar kota.